Perusahaan Amerika Serikat Meninggalkan Obligasi Hijau di Tengah Pengaruh Trump dan Tekanan Politik
Sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih, tren penerbitan obligasi hijau oleh perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat mengalami penurunan drastis. Padahal, instrumen keuangan ini sebelumnya dianggap sebagai langkah bagi sektor korporasi untuk berkontribusi dalam upaya penyelamatan lingkungan.
Sepanjang tahun 2025, hanya satu obligasi hijau dalam mata uang dolar AS yang diterbitkan oleh perusahaan Amerika, yakni senilai $350 juta oleh Oglethorpe Power pada bulan Januari. Ini menjadi awal tahun paling lambat dalam satu dekade terakhir bagi pasar obligasi hijau. Selama bertahun-tahun, bank dan perusahaan utilitas menjadi penerbit utama obligasi ini, diikuti oleh raksasa industri seperti Apple Inc. dan Walmart Inc. yang juga pernah menerbitkan obligasi hijau dengan jumlah besar.
Namun, kini pendekatan perusahaan terhadap isu lingkungan mulai bergeser. Para pemimpin dari Partai Republik semakin vokal dalam menentang investasi yang berorientasi pada keberlanjutan, termasuk upaya untuk mengurangi emisi karbon dan mencapai tujuan sosial lainnya. Obligasi hijau, yang bertujuan untuk mendanai proyek ramah lingkungan, menjadi target utama dalam perdebatan ini.
Perlambatan yang Sudah Terjadi Sebelum Trump Kembali Berkuasa
Penurunan penjualan obligasi hijau sebenarnya sudah terjadi sejak sebelum Trump kembali terpilih. Banyak faktor yang mempengaruhi tren ini, mulai dari resistensi politik, ketidakpastian keuntungan bagi penerbit, hingga meningkatnya kritik terhadap praktik ‘greenwashing’ dari kelompok progresif. Greenwashing adalah praktik di mana perusahaan mengklaim melakukan inisiatif ramah lingkungan, tetapi pada kenyataannya kontribusinya tidak signifikan.
“Di Amerika Serikat, khususnya, penurunan ini sangat tajam dan prospeknya cukup suram ke depan,” ujar Andrew Poreda, analis senior dari Sage Advisory Services yang berfokus pada investasi berkelanjutan. Menurutnya, bahkan label ‘obligasi hijau’ saja sudah menjadi topik sensitif di tengah polarisasi politik saat ini.
Pasar Obligasi Hijau Global Masih Bertahan
Meskipun penerbitan obligasi hijau di AS menurun drastis, tren ini tidak terlihat di bagian dunia lainnya. BNP Paribas memproyeksikan bahwa total penerbitan obligasi hijau global akan mencapai $660 miliar tahun ini, meningkat sekitar 8% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, di AS, penerbitan obligasi hijau dari pemerintah daerah masih cukup kuat meskipun perusahaan swasta mulai menghindarinya.
Yang menarik, perusahaan-perusahaan AS tetap menjalankan proyek-proyek keberlanjutan, tetapi mereka memilih metode pendanaan lain. Mereka lebih suka mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan efisiensi lingkungan tanpa harus terikat pada regulasi dan label obligasi hijau yang bisa menjadi bumerang di tengah ketegangan politik.
Pergeseran Strategi dan Dampaknya Terhadap Keberlanjutan
Saat ini, perusahaan-perusahaan yang masih berkomitmen terhadap energi bersih mulai mengubah cara mereka mempresentasikan inisiatif tersebut. Alih-alih mempublikasikan pencapaian mereka secara terbuka, banyak yang memilih untuk tetap menjalankan program-program hijau tanpa label besar yang bisa memancing kontroversi. Hal ini berbanding lurus dengan turunnya penerbitan utang berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) di kalangan perusahaan AS dan lembaga keuangan. Hingga pekan lalu, penjualan obligasi ESG dalam mata uang dolar oleh perusahaan Amerika telah turun hampir 89% dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, bank-bank besar AS mulai meninggalkan Net-Zero Banking Alliance, sebuah koalisi global yang mendukung upaya pengurangan emisi karbon. Mereka juga mulai melonggarkan kebijakan terkait keberagaman, kesetaraan, dan inklusi. Semua ini menunjukkan adanya pergeseran yang lebih luas dalam strategi perusahaan, terutama di bawah tekanan politik yang semakin kuat.
Apa yang Mendorong Perubahan Ini?
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan perusahaan AS mulai meninggalkan obligasi hijau dan kebijakan keberlanjutan yang terlalu mencolok. Salah satunya adalah tekanan dari Partai Republik, yang semakin gencar mengkritik kebijakan ESG dan investasi berbasis lingkungan. Beberapa anggota parlemen bahkan secara terbuka menentang kebijakan yang mereka anggap terlalu berpihak pada agenda aktivis lingkungan.
Selain itu, keuntungan dari penerbitan obligasi hijau tidak selalu menarik bagi perusahaan. Meskipun ada insentif bagi perusahaan untuk menerbitkan obligasi hijau, tidak semua mendapatkan keuntungan yang jelas dari segi biaya. Dalam beberapa kasus, biaya penerbitan bisa lebih tinggi daripada obligasi konvensional, terutama jika pasar skeptis terhadap kredibilitas proyek yang didanai.
Faktor lainnya adalah meningkatnya pengawasan dari kelompok progresif terhadap perusahaan yang mengklaim berkomitmen terhadap lingkungan tetapi tidak memiliki tindakan nyata. Beberapa perusahaan yang terlalu agresif dalam memasarkan citra hijau mereka justru mendapat reaksi balik ketika terbukti tidak memenuhi standar yang mereka tetapkan sendiri.
Dampak Jangka Panjang bagi Pasar Keuangan dan Keberlanjutan
Meskipun tren saat ini menunjukkan bahwa perusahaan AS semakin menjauhi obligasi hijau, bukan berarti mereka sepenuhnya meninggalkan inisiatif keberlanjutan. Banyak perusahaan masih melakukan investasi di bidang energi terbarukan dan efisiensi sumber daya, hanya saja mereka memilih untuk tidak mengasosiasikan proyek-proyek ini dengan label ESG yang dianggap kontroversial.
Dalam jangka panjang, pola ini bisa berdampak pada pasar keuangan secara keseluruhan. Jika tren ini berlanjut, bisa saja penerbitan obligasi hijau global menjadi semakin terkonsentrasi di negara-negara yang lebih progresif dalam kebijakan lingkungan. Di sisi lain, perusahaan AS mungkin lebih memilih untuk berinvestasi langsung dalam proyek hijau tanpa melalui pasar obligasi, yang bisa mengubah dinamika investasi hijau di masa depan.
Perubahan kebijakan dan strategi perusahaan yang sedang terjadi ini juga menjadi pengingat bahwa investasi berbasis keberlanjutan bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga bagaimana kebijakan dan dinamika politik dapat memengaruhi keputusan bisnis. Ke depannya, pelaku pasar akan terus mencermati bagaimana perusahaan-perusahaan besar menyesuaikan strategi mereka dalam menghadapi tekanan politik dan ekonomi yang terus berkembang.
Posting Komentar untuk " Perusahaan Amerika Serikat Meninggalkan Obligasi Hijau di Tengah Pengaruh Trump dan Tekanan Politik"